GERAKAN PARA PAHLAWAN REMAJA MELALUI UNGGAHAN HAK-HAK REPRODUKSI YANG MASIF DAN SISTEMATIS PART 1

Remaja sebagai fase peralihan dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa dengan rentang usia 10-24 tahun dan belum menikah.1 Masa remaja seringkali dihadapkan dengan banyak pertanyaan atas segala sesuatu, termasuk juga mengenai reproduksi dan seksualitas, karena hakikatnya remaja memiliki rasa ingin tahu yang sangat tinggi.

Faktanya remaja cenderung menggali informasi yang ingin diketahui secara mandiri, berdasarkan SDKI 2017 menunjukkan bahwa remaja lebih memilih mendiskusikan tentang kesehatan reproduksi dengan temannya dibanding kepada kerabat, saudara bahkan orang tua. Persentase diskusi bersama teman diketahui, sebesar 59 persen wanita dan 49 persen pria yang berumur 15-19 tahun dan sebesar 68 persen wanita dan 55 persen pria yang berumur 20-24 tahun.

Baca Juga  Materi Pelecehan Seksual dan Pemerkosaan

Remaja didorong dengan rasa ingin tahu yang kuat sehingga menyebabkan pencarian informasi akan jauh lebih dalam daripada sebatas diskusi sebagai sumber referensi. Rasa ingin tahu ini membuat remaja cenderung mencari tahu melalui VCD, buku, foto, majalah, internet, dan.sumber.lain.yang belum tentu cocok untuk remaja bahkan berpotensi memberikan substansi yang salah dan menyesatkan.

Remaja menjadi korban ketidakpahaman perilaku seksual berisiko di usia muda, salah satu risikonya adalah kehamilan tidak diinginkan yang berakhir pada pernikahan dini. Bahkan saat ini di masa pandemi Covid-19 angka pernikahan dini di Indonesia meningkat, diungkapkan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, tercatat kenaikannya mencapai 24 ribu. Selain itu Kepala BKKBN, Dr. Hasto Wardoyo mengatakan bahwa perceraian pada 2017 dan 2018 meningkat, dan di masa pandemi data menunjukkan peningkatan yang luar biasa.

Baca Juga  program The biggest event Road to school PIK - REMAJA KECAMATAN CIHAMPELAS

Ketidakpahaman dan kesalahan sumber informasi mengenai kesehatan reproduksi bagi remaja menyebabkan masalah yang sangat kompleks, karena minimnya informasi yang berkualitas menjadi salah satu faktor penyebab perilaku seks bebas di kalangan remaja.  Contoh kisah viral seorang gadis yang rela disetubuhi pacarnya demi menyembuhkan penyakit kelebihan sel darah putih adalah kasus akibat minim informasi. Karena itu remaja perlu memiliki pengetahuan seputar kesehatan reproduksi, selain untuk menjaga kesehatan dan fungsi organ, dengan informasi yang benar akan menghindarkan remaja dari melakukan hal-hal yang tidak diinginkan.

Kita dapat menyelesaikan persoalan ini mulai dari masalah yang melatarbelakanginya, yakni dengan menginformasikan kepada remaja mengenai hak-hak reproduksi. Hak reproduksi secara umum diartikan sebagai hak yang dimiliki oleh individu baik lakilaki maupun perempuan yang berkaitan dengan keadaan reproduksinya. Dengan mengenal dan memahami hak reproduksi kita akan melindungi, memperjuangkan dan membela hak seksual dan reproduksi yang dimiliki oleh kita maupun orang lain.

Baca Juga  Solusi untuk Kenakalan pada Remaja

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *

logo pik remaja Formasi bandung barat

FORMASI FRESH KBB adalah Forum Remaja Sehat Ideal yang memiliki visi untuk mewujudkan Remaja yang FRESH : Future, Role model, Education, Smart, Humanity.

Copyright @ Forum Pik Remaja Formasi Kabupaten Bandung Barat